04 Oktober 2009

Materi Kuliah Bahasa Indonesia 3

Senin, 5 Oktober 2009
Kelas A-08

KETERAMPILAN MENYIMAK

A. Hakikat Menyimak sebagai Aspek Keterampilan Berbahasa

Pengertian menyimak sangat dekat maknanya dengan mendengar dan mendengarkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2003: 1066), didapati pengertian menyimak yaitu mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Pada sumber yang sama (2003: 251), terdapat pengertian mendengar yaitu dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga. Sadar atau tidak, kalau ada bunyi, alat pendengar kita akan menangkap atau mendengar bunyi-bunyi tersebut. Kita mendengar suara itu tanpa ada unsur kesengajaan. Sementara, yang dimaksud dengan mendengarkan adalah mendengar akan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Dari pengertian masing-masing kata, kita dapat melihat perbedaan antara ketiganya. Proses mendengar terjadi tanpa perencanaan, dengan kata lain datang secara kebetulan. Sementara dalam menyimak, faktor kesengajaan cukup besar, lebih besar daripada mendengarkan karena dalam kegiatan menyimak ada usaha memahami apa yang disampaikan pembicara, sedangkan dalam kegiatan mendengarkan tingkatan pemahaman belum dilakukan. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Pintamtiyastirin (1983: 11) bahwa menyimak ialah mendengarkan dengan pemahaman atau pengertian, bahkan sampai ke tingkat apresiasi.

Kegiatan menyimak merupakan kegiatan berbahasa yang kompleks karena melibatkan berbagai proses menyimak pada saat yang sama. Menyimak bukan merupakan suatu proses yang pasif, melainkan suatu proses yang aktif dalam mengonstruksikan suatu pesan dari suatu arus bunyi yang diketahui orang sebagai potensi-potensi fonologis, semantik, dan sintaksis suatu bahasa. Pada saat penyimak mendengar bunyi bahasa, pada saat itu pula mental seseorang aktif bekerja, mencoba memahami, menafsirkan, apa yang disampaikan pembicara, dan memberinya respons. Pada dasarnya respons yang diberikan itu akan terjadi setelah adanya integrasi antara pesan yang didengar dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman penyimak. Respons itu bisa sama dengan yang dikehendaki pembicara dan bisa pula tidak.

Mengingat proses menyimak itu ternyata terjadi dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, maka dapat dipastikan bahwa urutan proses itu bekerja dengan cepat. Kalau proses itu mendapatkan gangguan, dengan sendirinya kegiatan menyimak tidak berlangsung sempurna dan pemahaman pun tidak tercapai. Ini berarti penyimak tidak dapat melakukan respons. Seperti yang diungkapkan Bistok, (via Sutari, dkk, 1997: 21) bahwa menyimak adalah suatu rentetan proses, mulai dari proses mengidentifikasi bunyi, menyusun penafsiran, menyimpan, dan menghubungkan penafsiran itu dengan seluruh pengetahuan dan pengalaman.

Sebagai kegiatan yang kompleks, menyimak mempunyai beberapa unsur dasar yang secara fundamental mewujudkan adanya suatu peristiwa atau kegiatan menyimak, yaitu: pembicara sebagai sumber pesan, penyimak sebagai penerima pesan, bahan simakan sebagai unsur konsep, dan bahasa lisan sebagai media (Sutari, dkk, 1997: 42). Keempat unsur tersebut sangat berpengaruh dalam kegiatan menyimak. Salah satu dari unsur tersebut tidak ada, maka kegiatan menyimak tidak akan berjalan. Selain ditentukan oleh eksistensi unsur dasar tersebut, kualitas pelaksanaan kegiatan menyimak juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Menurut Tarigan (2006: 98), faktor-faktor tersebut adalah faktor fisik, psikologis, pengalaman, sikap, motivasi, jenis kelamin, lingkungan, dan peranan dalam masyarakat.

Delapan faktor tersebut di atas turut memengaruhi kualitas dari kegiatan menyimak yang dilakukan orang pada umumnya. Untuk dapat menyimak dengan baik, seorang penyimak harus berada pada kondisi yang siap simak karena menyimak dengan baik menuntut perhatian, pikiran, penalaran, penafsiran, dan imajinasi. Para penyimak harus memproyeksikan diri mereka ke dalam pikiran pembicara dan berupaya memahami bukan saja yang dikatakan oleh pembicara, melainkan juga apa yang dimaksudkannya.

Sutari, dkk (1997: 22) mengemukakan bahwa tinggi rendahnya tingkat perhatian, pikiran, penalaran, penafsiran, dan imajinasi penyimak tergantung pada tujuan penyimak dalam melakukan kegiatan tersebut. Ada beberapa macam tujuan dalam kegiatan menyimak yang dilakukan orang pada umumnya, yaitu mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta atau informasi yang ada, mendapatkan inspirasi, mendapatkan hiburan, dan memperbaiki kemampuan berbicara. Perbedaan tujuan dalam kegiatan menyimak, menyebabkan adanya aneka ragam menyimak.

Ada beberapa macam tujuan dalam kegiatan menyimak yang dilakukan orang pada umumnya, yaitu: mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta atau informasi yang ada, mendapatkan inspirasi, mendapatkan hiburan, dan memperbaiki kemampuan berbicara.

B. Ragam Menyimak

Perbedaan tujuan dalam kegiatan menyimak, menyebabkan adanya aneka ragam menyimak. Secara garis besar, menyimak dibedakan menjadi dua, yaitu :

a. Menyimak ekstensif

Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru. Menyimak ekstensif terdiri dari:

(1) Menyimak sosial (social listening) atau menyimak konversasional adalah menyimak yang biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang mengobrol atau bercengkerama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang yang hadir dan saling mendengarkan untuk memuat responsi-responsi yang wajar, mengikuti hal-hal yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan oleh seorang rekan (Dawson, via Tarigan, 2006: 37).

(2) Menyimak sekunder (secondery listening) adalah sejenis kegiatan menyimak kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif (extensive listening).

(3) Menyimak estetik (aesthetic listening) ataupun yang disebut dengan menyimak apresiatif adalah fase terakhir dalam kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif.

(4) Menyimak pasif (passive listening) adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan kurang teliti, tergesa-gesa, menghafal luar kepala, berlatih santai, serta menguasai sesuatu bahasa.

b. Menyimak Intensif

Menyimak intensif adalah jenis menyimak yang pelaksanaannya diarahkan pada suatu kegiatan yang lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Menyimak intensif terdiri atas beberapa jenis berikut.

(1) Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupaya untuk mencari kesalahan dan kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara, dengan alasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat.

(2) Menyimak kreatif (creative listening) adalah sejenis kegiatan dalam menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan oleh apa-apa yang disimaknya.

(3) Menyimak eksploratif yaitu sejenis kegiatan menyimak intensif dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah dan sempit.

(4) Menyimak interogatif (interrogative listening) adalah sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian, dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara, karena sang penyimak akan mengajukan sebanyak mungkin pertanyaan.

(5) Menyimak selektif yakni menyimak yang dilakukan sebagai pelengkap kegiatan menyimak pasif guna mengimbangi isolasi kultural dan tendensi kita untuk menginterpretasikan kembali semua yang kita dengar dengan bantuan bahasa yang telah kita kuasai.

(6) Menyimak konsentratif (concentrative listening) sering juga disebut a study-type atau menyimak yang kegiatannya sejenis dengan telaah. Kegiatan yang tercakup dalam menyimak konsentratif ini adalah:

(a) mengikuti petunjuk yang terdapat dalam pembicaraan;

(b) mencari dan merasakan hubungan, seperti kelas, tempat, kualitas, waktu, urutan, dan sebab akibat;

(c) mendapatkan atau memperoleh butir-butir informasi tertentu;

(d) memperoleh pemahaman dan pengertian yang mendalam;

(e) merasakan serta menghayati ide sang pembicara, sasaran, dan organisasinya;

(f) memahami urutan ide-ide sang pembicara;

(g) mencari dan mencatat fakta-fakta penting.

C. Teknik Menyimak

Menyimak bukanlah suatu kegiatan satu arah. Langkah pertama dari kegiatan keterampilan menyimak ialah proses psikomotorik untuk menerima gelombang suara melalui telinga dan mengirimkan impuls-impuls tersebut ke otak. Namun, proses tadi hanyalah suatu permulaan dari suatu proses interaktif ketika otak bereaksi terhadap impuls-impuls tadi untuk mengirimkan sejumlah mekanisme kognitif dan afektif yang berbeda.

Menurut Brawn (via Iskandarwassid, 2008: 227-228), terdapat delapan proses dalam kegiatan menyimak, yakni sebagai berikut.

1. Pendengar memproses raw speech dan menyimpan image darinya dalam short term memory. Image ini berisi frasa, klausa, tanda-tanda baca, intonasi, dan pola-pola tekanan kata dari suatu rangkaian pembicaraan yang ia dengar.

2. Pendengar menentukan tipe dalam setiap peristiwa pembicaraan yang sedang diproses. Pendengar, sebagai contoh harus menentukan kembali apakah pembicaraan tadi berbentuk dialog, pidato, siaran radio, dan lain-lain dan kemudian ia menginterpretasikan pesan yang ia terima.

3. Pendengar mencari maksud dan tujuan pembicara dengan memper-timbangkan bentuk dan jenis pembicaraan, konteks, dan isi.

4. Pendengar me-recall latar belakang informasi (melalui skema yang ia miliki) sesuai dengan konteks subjek masalah yang ada. Pengalaman dan pengetahuan akan digunakan dalam membentuk hubungan kognitif untuk memberikan interpretasi yang tepat terhadap pesan yang disampaikan.

5. Pendengar mencari arti literal dari pesan yang ia dengar. Proses ini melibatkan kegiatan interpretasi semantik.

6. Pendengar menentukan arti yang dimaksud.

7. Pendengar mempertimbangkan apakah informasi yang ia terima harus disimpan di dalam memorinya atau ditunda.

8. Pendengar menghapus bentuk pesan-pesan yang telah ia terima. Pada dasarnya, 99% kata-kata dan frasa, serta kalimat yang diterima akan menghilang dan terlupakan.

D. Tujuan Pembelajaran Menyimak

Semi (1993: 98) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran menyimak pada semua jenjang pendidikan pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1. Persepsi, yakni ciri kognitif dari proses mendengarkan yang didasarkan pemahaman pengetahuan tentang kaidah-kaidah kebahasaan.

2. Resepsi, yakni pemahaman pesan atau penafsiran pesan yang dikehendaki oleh pembicara.

Bila kedua hal itu dijabarkan lagi maka dapat dikemukakan bahwa tujuan pembelajaran menyimak sebagai berikut.

1. Siswa memiliki keterampilan mengenal segi kognitif tentang kaidah-kaidah kebahasaan.

2. Siswa memiliki keterampilan mendengarkan dan mengamati dengan cermat apa yang diucapkan orang kepadanya.

3. Siswa mampu mengingat hubungan apa yang sudah dan sedang dibicarakan orang kepadanya.

4. Dapat menghayati dan menangkap bagian-bagian penting suatu pernyataan, sehingga dapat menjawab pertanyaan dengan tepat.

5. Siswa mampu menghubungkan ide-ide yang berbeda dalam suatu diskusi.

Tujuan pembelajaran di atas harus selalu disadari oleh guru, terutama dalam kegiatan pembelajaran. Faktor metode pembelajaran memainkan peranan yang besar dan menentukan usaha pencapaian tujuan tersebut. Peranan metode mengajar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia lebih besar lagi, mengingat hampir sebagian siswa menganggap dirinya sudah cakap dan mampu berbahasa Indonesia, yang disebabkan setiap hari dia menggunakan bahasa Indonesia atau sering mendengarkan orang berbahasa Indonesia. Anggapan semacam itu menimbulkan sikap kurang simpatik terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Sikap itu akan bertambah besar, kalau guru bahasa Indonesia tidak mengupayakan pengajaran bahasa Indonesia dengan metode yang bervariasi sesuai dengan tuntutan tujuan dan bahan pengajaran.


E. Teknik Pembelajaran Menyimak

Pada dasarnya, kita telah belajar menyimak sejak lahir. Ketika kali pertama kita dikenalkan pada bunyi, kita telah belajar menyimak. Dengan demikian, menyimak merupakan kemampuan berbahasa pertama yang kita pelajari dan dapatkan, jauh sebelum kita mempelajari dan mendapatkan kemampuan berbahasa lainnya. Setelah mengenal bunyi dan kata, sedikit demi sedikit kita belajar berbicara, membaca, kemudian menulis.

Sebelum membahas teknik pembelajaran menyimak, terlebih dulu akan diuraikan perbedaan pendekatan, metode, dan teknik. Pendekatan adalah tingkat asumsi atau pendirian mengenai bahasa dan pembelajaran bahasa atau bisa dikatakan ‘falsafah tentang pembelajaran bahasa’. Metode adalah tingkat yang menerapkan teori-teori pada tingkat pendekatan. Teknik (technique) mengacu pada pengertian implementasi kegiatan belajar-mengajar.

Tarigan (1986: 52-73) mengemukakan beberapa macam teknik pembelajaran dalam menyimak, sebagai berikut.

a. Dengar – Ulang Ucap

Model ucapan yang akan diperdengarkan dipersiapkan secara cermat oleh guru. Isi model ucapan dapat berupa fonem, kata, kalimat, ungkapan, kata-kata mutiara, semboyan, dan puisi-puisi pendek. Model itu dapat dibacakan atau disajikan dalam bentuk rekaman. Model ini disimak dan ditiru oleh siswa.

b. Dengar – Tulis (Dikte)

Dengar – Tulis (Dikte) mirip dengan Dengar – Ulang Ucap. Model ucapan yang digunakan dalam Dengar – Ulang Ucap dapat digunakan dalam Dengar – Tulis. Dengar – Ulang Ucap menuntut reaksi bersifat lisan, sedangkan Dengar-Tulis menuntut reaksi bersifat tulisan.

c. Dengar – Kerjakan

Model ucapan yang digunakan dalam metode ini berisi kalimat-kalimat perintah. Siswa yang menyimak isi ucapan merespons sesuai dengan instruksi. Reaksi biasanya dalam bentuk perbuatan.

d. Dengar – Terka

Dalam teknik pengajaran menyimak ini, guru menyusun deskripsi sesuatu benda tanpa menyebutkan nama bendanya. Deskripsi dibacakan atau diputar rekamannya kepada siswa. Siswa menyimak teks lisan dengan saksama, kemudian menerka isinya.

e. Memperluas Kalimat

Guru menyebutkan sebuah kalimat. Siswa mengucapkan kembali kalimat tersebut. Kembali guru mengulangi mengucapkan kalimat tadi. Kemudian guru mengucapkan kata atau kelompok kata lain. Siswa melengkapi kalimat tadi dengan kelompok kata yang disebutkan terakhir oleh guru. Hasilnya adalah kalimat yang diperluas.

f. Menemukan Benda

Guru mengumpulkan sejumlah benda. Benda-benda tersebut sebaiknya sudah pernah dikenal oleh para siswanya. Benda-benda itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak terbuka. Kemudian guru menyebutkan nama sesuatu benda. Siswa mencari benda yang baru diucapkan guru. Bila bendanya sudah ditemukan, kemudian ditunjukkan kepada guru.

g. Siman Berkata

Seorang siswa berperan sebagai Siman dan maju ke depan kelas. Setiap Siman berkata, “….” siswa lainnya menurutinya. Tetapi Siman hanya mengucapkan ‘….’ siswa lain tidak boleh mengikutinya. Kecermatan menyimak ucapan Siman menentukan pemberian reaksi yang tepat atau salah. Siswa yang salah mendapat hukuman.

h. Bisik Berantai

Guru membisikkan satu kalimat kepada siswa yang paling depan atau pertama. Siswa tersebut menyampaikan kalimat tadi dengan cara membisikkannya ke telinga siswa berikutnya. Demikian seterusnya sampai siswa terakhir. Siswa terakhir mengucapkan kalimat tadi dengan suara nyaring atau boleh juga siswa terakhir menuliskan kalimat tersebut di papan tulis.

i. Menyelesaikan Cerita

Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 3-4 orang. Guru memanggil anggota kelompok pertama, misalnya kelompok I, maju ke depan kelas. Yang bersangkutan disuruh bercerita, judul bebas kadang-kadang juga ditentukan oleh guru. Setelah siswa yang bersangkutan cerita, misalnya baru seperempat bagian ia dipersilakan guru untuk duduk. Cerita tersebut dilanjutkan oleh anggota kedua. Anggota ketiga maju untuk melanjutkan cerita itu. Bagian terakhir cerita diselesaikan oleh anggota keempat. Kelas boleh tidak dikelompokkan. Semua siswa harus siap dipanggil untuk bercerita. Sementara yang belum tampil ke depan harus menyimak benar-benar jalan cerita. Hal tersebut disebabkan karena ada kemungkinan giliran berikutnya jatuh kepada setiap siswa. Siswa harus siap melanjutkan cerita yang sedang berlangsung. Siapa yang maju gurulah yang menentukan. Cara ini membuat kelas serius menyimak cerita yang sedang dituturkan.

j. Identifikasi Kata Kunci

Setiap kalimat, paragraf ataupun wacana selalu memiliki sejumlah kata yang dapat mengungkapkan isi keseluruhan kalimat, paragraf, atau wacana. Kata-kata yang dapat mewakili isi keseluruhan itu disebut kata kunci atau “key word”. Menyimak isi kalimat yang panjang atau paragraf dan wacana yang pendek-pendek tidak perlu menangkap semua kata yang ada. Cukup diingat beberapa kata kunci yang merupakan inti pembicaraan. Melalui perakitan kata kunci menjadi kalimat-kalimat utuh kita sampai pada isi singkat bahan simakan.

k. Identifikasi Kalimat Topik

Setiap paragraf mengandung minimal dua unsur. Pertama ialah kalimat topik, kedua ialah kalimat pengembang. Posisi kalimat topik mungkin di bagian depan, di bagian akhir paragraf. Bahkan sekali-sekali ditemukan juga kalimat topik di tengah-tengah paragraf. Memahami paragraf atau wacana yang dilisankan berarti mencari dan memahami kalimat topik setiap paragraf. Wacana dibangun oleh sejumlah paragraf. Bila Anda dapat mengidentifikasi kalimat topik setiap paragraf yang membangun wacana tersebut maka pemahaman wacana terwujud.

l. Menyingkat/Merangkum

Menyimak bahan simakan yang agak panjang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu di antara cara tersebut ialah melalui penyingkatan. Menyingkat/merangkum berarti merangkum bahan yang panjang menjadi sesedikit mungkin. Namun yang sedikit itu dapat mewakili yang panjang.

m. Parafrase

Suatu cara yang biasa digunakan orang dalam memahami isi puisi ialah dengan cara mengutarakan isi puisi dengan kata-kata sendiri dalam bentuk prosa. Puisi yang sudah direkam atau dibacakan guru diperdengarkan kepada siswa. Siswa menyimak isinya dan mengutarakan kembali dalam bentuk prosa.

n. Menjawab Pertanyaan

Cara lain untuk mengajarkan menyimak yang efektif ialah melalui latihan menjawab pertanyaan, apa, siapa, mengapa, di mana, mana, dan bilamana yang diajukan kepada bahan simakan. Untuk memantapkan pemahaman melaksanakan cara ini maka latihan diadakan bertahap, satu demi satu dan terakhir semuanya sekaligus.


Pelajari materi di atas. Anda cari materi pokoknya, kemudian kirim ke email saya derianggraini@yahoo.com. Saya tunggu sampai pukul 24.00 WIB

Persiapan kuliah minggu depan, bagilah mahasiswa dalam kelas Anda menjadi 6 kelompok. Kelompok 1 menyiapkan naskah pembelajaran menyimak kelas I, kelompok 2 menyiapkan naskah pembelajaran menyimak kelas II, demikian seterusnya.

Tidak ada komentar: